Selasa, 10 Maret 2020

HALAL DAN HARAM DALAM MAKANAN



Kata halal berasal dari bahasa arab yang berarti “melepaskan” dan “tidak terikat”. Secara etimologi halal berarti hal-hal yang boleh dan dapat dilakukan karena bebas atau tidak terikat dengan ketentuan-ketentuan yang melarangnya. Prinsip dasar yang ditetapkan Islam, pada asalnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah itu halal. Tidak ada yang haram kecuali jika ada nash (dalil) yang shahih (tidak cacat periwayatnya) dan sharih (jelas maknanya) dari pemilik syari’at (Allah swt). Kalau tidak ada nash yang sah dikarenakan ada sebahagian hadist lemah atau tidak ada nash yang tegas (sharih) yang menunjukkan haram, maka hal tersebut sebagaimana asalnya yaitu mubah.[1]
Agama Islam menganjurkan kepada pemeluknya untuk memakan makanan yang halal dan baik. Makanan “Halal” maksudnya makanan yang diperoleh dari usaha yang diridhai Allah. Sedangkan makanan yang “baik” adalah yang bermanfaat bagi tubuh, bersifat bersih, higienis, makanan bergizi, berkualitas dan bermutu baik.
Dalam mengkonsumsi makanan, kita harus mengikuti aturan yang telah ditentukan syariat. Di antara aturan itu adalah yang terdapat dalam surat Al-Nahl ayat 144, Allah berfirman:

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ حَلاَلاً طَيِّباً وَ اشْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَاهُ تَعْبُدُونَ

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya”. (QS.An-Nahl:144).
Adapun kriteria halal-haram untuk pangan, obat, dan kosmetik yang menjadi hal penting yang harus diketahui oleh konsumen. Kriteria halal tersebut adalah thayyib (baik). Sedangkan kriteria haram itu ada lima, yaitu khabits (buruk), berbahaya, najis, memabukkan, dan terbuat dari organ tubuh manusia.[2]
Sedangkan yang dimaksud dengan makanan halal menurut Himpunan Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah makanan yang dibolehkan untuk dikonsumsi menurut ajaran Islam. Adapun syarat-syarat produk makanan halal menurut syari’at Islam antara lain:
1.    Halal zatnya, artinya halal dari hukum asalnya misalkan sayuran.
2.    Halal cara memperolehnya, artinya cara memperolehnya sesuai dengan syari’at Islam misalkan tidak dengan mencuri.
3.    Halal dalam memprosesnya, misalkan proses menyembelih binatang dengan syari’at Islam misalkan dengan membaca basmalah.
4.    Halal dalam penyimpananya, tempat penyimpananya, tidak mengandung barang yang diharamkan, seperti babi dan anjing (binatang yang diharamkan oleh Allah).
5.    Halal dalam pengangkutanya, misalkan binatang yang mati dalam pengangkutan sekalipun baru sebentar, tidak boleh ikut disembelih dan dikonsumsi oleh manusia.
6.    Halal dalam penyajianya, artinya dalam penyajian tidak mengandung barang yang diharamkan menurut syari’at Islam.


يَآ أَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا إِنَّماَ الْخَمْرُ وَ الْمَيْسِرُ وَ الأَنْصَابُ وَ الأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطاَنِ فَاجْتَنْبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan, Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan itu) agar kamu beruntung.” (QS.Al-Maidah: 90).
Berdasar surat di atas yang berkaitan dengan pembolehan dan pelarangan memakan dan meminum sesuatu, jika seseorang mengkonsumsi minuman dan makanan yang haram maka akan tercermin sikap dan perilaku yang tidak baik. Sehingga memilih makanan yang baik dan halal merupakan kewajiban yang harus dijalankan bagi setiap muslim khususnya. Maka para Ulama menyimpulkan dalam suatu kaidah bahwa:
Hukum asal sesuatu boleh, sehingga ada dalil yang mengharamkannya”.
Dengan demikian, sepanjang tidak ada dalil yang melarang memakan dan meminum sesuatu, maka hukum memakan dan meminum sesuatu itu boleh.

Kamis, 05 Maret 2020

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 55. Mendoakan Orang yang Memberi Makanan



عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَ إِلَى سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ فَجَاءَ بِخُبْزٍ وَزَيْتٍ فَأَكَلَ ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْطَرَ عِنْدَكُمْ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمْ الْأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمْ الْمَلَائِكَةُ

3854. Dari Anas, dia berkata: Rasulullah SAW datang kepada Sa'ad bin Ubadah, lalu Ubadah menghidangkan roti dan minyaknya kepada beliau. Rasulullah SAW pun memakannya. Beliau kemudian bersabda, "Orang-orang yang berpuasa telah berbuka di rumahmu, orang-orang yang baik telah makan di rumahmu, dan malaikat pun ikut mendoakanmu. " (Shahih: Ibnu Majah), 1747

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 54. Mencuci Kedua Tangan ketika Selesai Makan


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ وَفِي يَدِهِ غَمَرٌ وَلَمْ يَغْسِلْهُ فَأَصَابَهُ شَيْءٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

3852. Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang tidur, sementara di tangannya masih ada sisa makanan (berminyak) dan dia tidak mencucinya, lalu dia tertimpa musibah, maka janganlah dia mengumpat kecuali kepada diri sendiri." (Shahih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 53. Doa Sesudah Makan


عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رُفِعَتْ الْمَائِدَةُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مُوَدَّعٍ وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبُّنَا

3849. Dari Abu Umamah, dia berkata: Jika Rasulullah SAW selesai makan, beliau berdoa, "Segala puji bagi Allah dengan sebaik-baik pujian. Allahlah yang telah memberikan berkah di dalamnya (makanan). Dia tidak menghentikan pemberian-Nya dan tidak pula meninggalkan hamba-Nya, dan kami tidak bisa berlepas diri darinya. " {Shahih)

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَكَلَ أَوْ شَرِبَ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَ وَسَقَى وَسَوَّغَهُ وَجَعَلَ لَهُ مَخْرَجًا

3851. Dari Abu Ayub Al Anshari, dia berkata: Jika Rasulullah SAW selesai makan atau minum, beliau berdoa, "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan makanan dan minuman, serta memudahkan kami menelan dan mencernanya serta memberinya jalan keluar. " (Shahih), Ash-Shahihah, 2061

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 52. Sapu Tangan


عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَمْسَحَنَّ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّى يَلْعَقَهَا أَوْ يُلْعِقَهَا

3847. Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Jika kalian sedang makan maka jangan mengusap tangan dengan serbet terlebih dahulu hingga dia menjilatinya atau dijilat." (Shahih: Muttafaq 'Alaih)

عَنْ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْكُلُ بِثَلَاثِ أَصَابِعَ وَلَا يَمْسَحُ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا

3848. Dari Ka'ab bin Malik, dia berkata: Rasulullah SAW selalu makan dengan menggunakan tiga jari dan beliau tidak mengusap tangannya setelah selesai makan hingga beliau menjilatinya terlebih dahulu. (Shahih: Muslim), Mukhtashar Asy-Syamail, 121

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 51. Pembantu yang Makan Bersama Tuannya



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَنَعَ لِأَحَدِكُمْ خَادِمُهُ طَعَامًا ثُمَّ جَاءَهُ بِهِ وَقَدْ وَلِيَ حَرَّهُ وَدُخَانَهُ فَلْيُقْعِدْهُ مَعَهُ لِيَأْكُلَ فَإِنْ كَانَ الطَّعَامُ مَشْفُوهًا فَلْيَضَعْ فِي يَدِهِ مِنْهُ أَكْلَةً أَوْ أَكْلَتَيْنِ

3846. Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Jika pembantu kalian telah membuatkan makanan untuk kalian, kemudian dia datang dengan makanan itu, sementara hawa panasnya dan asapnya dari makanan itu masih ada, maka ajaklah dia makan bersama kamu. Jika makanan itu sedikit maka hendaklah kamu memberikan satu atau dua suap ditangannya." (Shahih: Muslim), 5/94

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 50. Satu Sendok Makanan yang Terjatuh


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَكَلَ طَعَامًا لَعِقَ أَصَابِعَهُ الثَّلَاثَ وَقَالَ إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيُمِطْ عَنْهَا الْأَذَى وَلْيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُتَ الصَّحْفَةَ وَقَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي فِي أَيِّ طَعَامِهِ يُبَارَكُ لَهُ

3845. Dari Anas bin Malik, dia berkata: Jika Rasulullah makan makanan, maka beliau akan menjilati ketiga jarinya. Beliau bersabda, "Jika sesuap makanan kalian jatuh, maka kalian sebaiknya mengambilnya, kemudian dibersihkan kotorannya, lalu memakannya. Janganlah kalian membiarkannya untuk syetan." Beliau memerintahkan kami untuk menjilati piring. Beliau berkata, "Sesungguhnya kalian tidak tah