عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ { لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ } فَكَانَ
الرَّجُلُ يَحْرَجُ أَنْ يَأْكُلَ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ النَّاسِ بَعْدَ مَا
نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فَنَسَخَ ذَلِكَ الْآيَةُ الَّتِي فِي النُّورِ
قَالَ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَأْكُلُوا مِنْ بُيُوتِكُمْ إِلَى
قَوْلِهِ أَشْتَاتًا كَانَ الرَّجُلُ الْغَنِيُّ يَدْعُو الرَّجُلَ مِنْ
أَهْلِهِ إِلَى الطَّعَامِ قَالَ إِنِّي لَأَجَّنَّحُ أَنْ آكُلَ مِنْهُ
وَالتَّجَنُّحُ الْحَرَجُ وَيَقُولُ الْمِسْكِينُ أَحَقُّ بِهِ مِنِّي
فَأُحِلَّ فِي ذَلِكَ أَنْ يَأْكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ
عَلَيْهِ وَأُحِلَّ طَعَامُ أَهْلِ الْكِتَابِ
3753. Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Setelah turun ayat, "Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu
dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama-suka..." (Qs. An-Nisaa* [4]: 29) seorang lelaki
berkeberatan makan di rumah orang lain. Ayat ini lalu dinasakh (dihapus)
dengan ayat, (tidak ada dosa bagi kalian) "... makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri atau di rumah bapak-bapakmu... atau sendirian..." (Qs.
An-Nuur [24]: 61) Kemudian ada seorang lelaki kaya mengundang seseorang
yang masih kerabatnya untuk makan bersama, dia (saudaranya yang
diundang) berkata, "Aku benar-benar tidak keberatan untuk makan di
rumahnya." Lelaki itupun berkata, "Sesungguhnya orang-orang miskin
adalah lebih berhak untuk makan di sini daripada aku. Makanan-makanan
ini halal untuk dimakan dengan menyebut nama Allah, begitu juga dengan
makanan dari Ahli kitab (juga dihalalkan)." (Hasan Sanadnya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar