عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْكَعْبِيِّ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ
يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
جَائِزَتُهُ يَوْمُهُ وَلَيْلَتُهُ الضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ وَمَا
بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ وَلَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ
حَتَّى يُحْرِجَهُ.
قَالَ
وَسُئِلَ مَالِكٌ عَنْ قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ جَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ قَالَ يُكْرِمُهُ وَيُتْحِفُهُ
وَيَحْفَظُهُ يَوْمًا وَلَيْلَةً وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ضِيَافَةً
3748. Dari Abu Syuraih Al Ka'bi, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Siapa
yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia menghormati
tamunya. Hak tamu atas tuan rumah adalah sehari semalam. Hak jamuan tamu
hanya sampai pada tiga hari, maka setelah hari itu termasuk bagian dari
sedekah, sehingga tidak halal bagi tamu untuk menginap hingga
merepotkannya."
Malik
ditanya oleh seseorang mengenai sabda Rasulullah SAW, "Jaaizatuhu
yaumun wa lailatun?" (hak tamu atas tuan rumah adalah sehari semalam).
Dia pun menjawab: Menghormati, melayani, serta menjaganya dalam jangka
waktu sehari semalam, ditambah tiga hari berikutnya. (Shahih: Muttafaq 'Alaih)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ فَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ
3749.
Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Menjamu tamu
(batasnya) hanya sampai tiga hari, selebihnya adalah sedekah. " (Hasan Shahih Sanadnya)
عَنْ أَبِي كَرِيمَةَ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةُ الضَّيْفِ
حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَصْبَحَ بِفِنَائِهِ فَهُوَ عَلَيْهِ
دَيْنٌ إِنْ شَاءَ اقْتَضَى وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ
3750. Dari Abu Karimah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Bertamu
dalam waktu (sehari) semalam adalah hak bagi setiap orang Islam. Jadi,
orang yang bertamu namun hingga keesokan hari dia berada di halaman
rumahnya (tidak bisa masuk), maka si tuan rumah berutang padanya dan si
tamu berhak menuntutnya atau membiarkannya (Shahih)
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ أَنَّهُ قَالَ قُلْنَا
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تَبْعَثُنَا فَنَنْزِلُ بِقَوْمٍ فَمَا
يَقْرُونَنَا فَمَا تَرَى فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ نَزَلْتُمْ بِقَوْمٍ فَأَمَرُوا لَكُمْ بِمَا
يَنْبَغِي لِلضَّيْفِ فَاقْبَلُوا فَإِنْ لَمْ يَفْعَلُوا فَخُذُوا
مِنْهُمْ حَقَّ الضَّيْفِ الَّذِي يَنْبَغِي لَهُمْ
قَالَ أَبُو دَاوُد وَهَذِهِ حُجَّةٌ لِلرَّجُلِ يَأْخُذُ الشَّيْءَ إِذَا كَانَ لَهُ حَقًّا
3752. Dari Uqbah bin Amir, ia berkata: Kami berkata,
"Wahai Rasulullah, ketika engkau mengutus kami, kami pernah mampir ke
suatu kaum, yang tidak menyambut kedatangan kami (tidak menjamu tamu
secara baik)! Bagaimana menurutmu?" Rasulullah SAW kemudian bersabda,
"Jika kalian mampir (menginap atau istirahat) pada suatu kaum, maka
perintahkan (beritahukan) kepada mereka yang seharusnya mereka lakukan
saat menjamu tamu. Perintahkan mereka untuk mengadakan jamuan. Jika
mereka tidak melakukanya maka kalian berhak mengambil sesuatu yang
seharusnya mereka sajikan untuk menjamu tamu. " (Shahih: Muttafaq 'Alaih)
Abu
Daud berkata: Hadits ini adalah dalil diperbolehkanya seseorang untuk
mengambil sesuatu jika dia memang berhak atas sesuatu tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar