Selasa, 10 Maret 2020

HALAL DAN HARAM DALAM MAKANAN



Kata halal berasal dari bahasa arab yang berarti “melepaskan” dan “tidak terikat”. Secara etimologi halal berarti hal-hal yang boleh dan dapat dilakukan karena bebas atau tidak terikat dengan ketentuan-ketentuan yang melarangnya. Prinsip dasar yang ditetapkan Islam, pada asalnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah itu halal. Tidak ada yang haram kecuali jika ada nash (dalil) yang shahih (tidak cacat periwayatnya) dan sharih (jelas maknanya) dari pemilik syari’at (Allah swt). Kalau tidak ada nash yang sah dikarenakan ada sebahagian hadist lemah atau tidak ada nash yang tegas (sharih) yang menunjukkan haram, maka hal tersebut sebagaimana asalnya yaitu mubah.[1]
Agama Islam menganjurkan kepada pemeluknya untuk memakan makanan yang halal dan baik. Makanan “Halal” maksudnya makanan yang diperoleh dari usaha yang diridhai Allah. Sedangkan makanan yang “baik” adalah yang bermanfaat bagi tubuh, bersifat bersih, higienis, makanan bergizi, berkualitas dan bermutu baik.
Dalam mengkonsumsi makanan, kita harus mengikuti aturan yang telah ditentukan syariat. Di antara aturan itu adalah yang terdapat dalam surat Al-Nahl ayat 144, Allah berfirman:

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ حَلاَلاً طَيِّباً وَ اشْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَاهُ تَعْبُدُونَ

Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya”. (QS.An-Nahl:144).
Adapun kriteria halal-haram untuk pangan, obat, dan kosmetik yang menjadi hal penting yang harus diketahui oleh konsumen. Kriteria halal tersebut adalah thayyib (baik). Sedangkan kriteria haram itu ada lima, yaitu khabits (buruk), berbahaya, najis, memabukkan, dan terbuat dari organ tubuh manusia.[2]
Sedangkan yang dimaksud dengan makanan halal menurut Himpunan Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah makanan yang dibolehkan untuk dikonsumsi menurut ajaran Islam. Adapun syarat-syarat produk makanan halal menurut syari’at Islam antara lain:
1.    Halal zatnya, artinya halal dari hukum asalnya misalkan sayuran.
2.    Halal cara memperolehnya, artinya cara memperolehnya sesuai dengan syari’at Islam misalkan tidak dengan mencuri.
3.    Halal dalam memprosesnya, misalkan proses menyembelih binatang dengan syari’at Islam misalkan dengan membaca basmalah.
4.    Halal dalam penyimpananya, tempat penyimpananya, tidak mengandung barang yang diharamkan, seperti babi dan anjing (binatang yang diharamkan oleh Allah).
5.    Halal dalam pengangkutanya, misalkan binatang yang mati dalam pengangkutan sekalipun baru sebentar, tidak boleh ikut disembelih dan dikonsumsi oleh manusia.
6.    Halal dalam penyajianya, artinya dalam penyajian tidak mengandung barang yang diharamkan menurut syari’at Islam.


يَآ أَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا إِنَّماَ الْخَمْرُ وَ الْمَيْسِرُ وَ الأَنْصَابُ وَ الأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطاَنِ فَاجْتَنْبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan, Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan itu) agar kamu beruntung.” (QS.Al-Maidah: 90).
Berdasar surat di atas yang berkaitan dengan pembolehan dan pelarangan memakan dan meminum sesuatu, jika seseorang mengkonsumsi minuman dan makanan yang haram maka akan tercermin sikap dan perilaku yang tidak baik. Sehingga memilih makanan yang baik dan halal merupakan kewajiban yang harus dijalankan bagi setiap muslim khususnya. Maka para Ulama menyimpulkan dalam suatu kaidah bahwa:
Hukum asal sesuatu boleh, sehingga ada dalil yang mengharamkannya”.
Dengan demikian, sepanjang tidak ada dalil yang melarang memakan dan meminum sesuatu, maka hukum memakan dan meminum sesuatu itu boleh.

Kamis, 05 Maret 2020

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 55. Mendoakan Orang yang Memberi Makanan



عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَ إِلَى سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ فَجَاءَ بِخُبْزٍ وَزَيْتٍ فَأَكَلَ ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْطَرَ عِنْدَكُمْ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمْ الْأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمْ الْمَلَائِكَةُ

3854. Dari Anas, dia berkata: Rasulullah SAW datang kepada Sa'ad bin Ubadah, lalu Ubadah menghidangkan roti dan minyaknya kepada beliau. Rasulullah SAW pun memakannya. Beliau kemudian bersabda, "Orang-orang yang berpuasa telah berbuka di rumahmu, orang-orang yang baik telah makan di rumahmu, dan malaikat pun ikut mendoakanmu. " (Shahih: Ibnu Majah), 1747

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 54. Mencuci Kedua Tangan ketika Selesai Makan


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ وَفِي يَدِهِ غَمَرٌ وَلَمْ يَغْسِلْهُ فَأَصَابَهُ شَيْءٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

3852. Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang tidur, sementara di tangannya masih ada sisa makanan (berminyak) dan dia tidak mencucinya, lalu dia tertimpa musibah, maka janganlah dia mengumpat kecuali kepada diri sendiri." (Shahih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 53. Doa Sesudah Makan


عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رُفِعَتْ الْمَائِدَةُ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلَا مُوَدَّعٍ وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبُّنَا

3849. Dari Abu Umamah, dia berkata: Jika Rasulullah SAW selesai makan, beliau berdoa, "Segala puji bagi Allah dengan sebaik-baik pujian. Allahlah yang telah memberikan berkah di dalamnya (makanan). Dia tidak menghentikan pemberian-Nya dan tidak pula meninggalkan hamba-Nya, dan kami tidak bisa berlepas diri darinya. " {Shahih)

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَكَلَ أَوْ شَرِبَ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَ وَسَقَى وَسَوَّغَهُ وَجَعَلَ لَهُ مَخْرَجًا

3851. Dari Abu Ayub Al Anshari, dia berkata: Jika Rasulullah SAW selesai makan atau minum, beliau berdoa, "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan makanan dan minuman, serta memudahkan kami menelan dan mencernanya serta memberinya jalan keluar. " (Shahih), Ash-Shahihah, 2061

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 52. Sapu Tangan


عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَمْسَحَنَّ يَدَهُ بِالْمِنْدِيلِ حَتَّى يَلْعَقَهَا أَوْ يُلْعِقَهَا

3847. Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Jika kalian sedang makan maka jangan mengusap tangan dengan serbet terlebih dahulu hingga dia menjilatinya atau dijilat." (Shahih: Muttafaq 'Alaih)

عَنْ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْكُلُ بِثَلَاثِ أَصَابِعَ وَلَا يَمْسَحُ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا

3848. Dari Ka'ab bin Malik, dia berkata: Rasulullah SAW selalu makan dengan menggunakan tiga jari dan beliau tidak mengusap tangannya setelah selesai makan hingga beliau menjilatinya terlebih dahulu. (Shahih: Muslim), Mukhtashar Asy-Syamail, 121

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 51. Pembantu yang Makan Bersama Tuannya



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَنَعَ لِأَحَدِكُمْ خَادِمُهُ طَعَامًا ثُمَّ جَاءَهُ بِهِ وَقَدْ وَلِيَ حَرَّهُ وَدُخَانَهُ فَلْيُقْعِدْهُ مَعَهُ لِيَأْكُلَ فَإِنْ كَانَ الطَّعَامُ مَشْفُوهًا فَلْيَضَعْ فِي يَدِهِ مِنْهُ أَكْلَةً أَوْ أَكْلَتَيْنِ

3846. Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Jika pembantu kalian telah membuatkan makanan untuk kalian, kemudian dia datang dengan makanan itu, sementara hawa panasnya dan asapnya dari makanan itu masih ada, maka ajaklah dia makan bersama kamu. Jika makanan itu sedikit maka hendaklah kamu memberikan satu atau dua suap ditangannya." (Shahih: Muslim), 5/94

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 50. Satu Sendok Makanan yang Terjatuh


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَكَلَ طَعَامًا لَعِقَ أَصَابِعَهُ الثَّلَاثَ وَقَالَ إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيُمِطْ عَنْهَا الْأَذَى وَلْيَأْكُلْهَا وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ وَأَمَرَنَا أَنْ نَسْلُتَ الصَّحْفَةَ وَقَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِي فِي أَيِّ طَعَامِهِ يُبَارَكُ لَهُ

3845. Dari Anas bin Malik, dia berkata: Jika Rasulullah makan makanan, maka beliau akan menjilati ketiga jarinya. Beliau bersabda, "Jika sesuap makanan kalian jatuh, maka kalian sebaiknya mengambilnya, kemudian dibersihkan kotorannya, lalu memakannya. Janganlah kalian membiarkannya untuk syetan." Beliau memerintahkan kami untuk menjilati piring. Beliau berkata, "Sesungguhnya kalian tidak tah

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 49. Lalat yang Tercebur ke Dalam Makanan


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَامْقُلُوهُ فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِي الْآخَرِ شِفَاءً وَإِنَّهُ يَتَّقِي بِجَنَاحِهِ الَّذِي فِيهِ الدَّاءُ فَلْيَغْمِسْهُ كُلُّهُ

3844. Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Jika seekor lalat terjatuh dalam bejana kalian, maka celupkanlah lalat itu, karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap yang satunya lagi terdapat penawarnya (obat), yang dapat mencegah penyakit yang ada pada sayap lainnya. Oleh karena itu, celupkanlah semuanya. " (Shahih: Bukhari)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 48. Tikus yang Tercebur ke Dalam Lemak


عَنْ مَيْمُونَةَ أَنَّ فَأْرَةً وَقَعَتْ فِي سَمْنٍ فَأُخْبِرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَلْقُوا مَا حَوْلَهَا وَكُلُوا

3841. Dari Maimunah, dia berkata: Ada seekor tikus tercebur ke dalam lemak, kemudian hal ini dilaporkan kepada Rasulullah SAW, beliau pun bersabda, "Buanglah sekitarnya (yang terkena tikus) lalu makanlah (sisa lemak tersebut)." (Shahih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 47. Binatang Laut



عَنْ جَابِرٍ قَالَ بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَّرَ عَلَيْنَا أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ نَتَلَقَّى عِيرًا لِقُرَيْشٍ وَزَوَّدَنَا جِرَابًا مِنْ تَمْرٍ لَمْ نَجِدْ لَهُ غَيْرَهُ فَكَانَ أَبُو عُبَيْدَةَ يُعْطِينَا تَمْرَةً تَمْرَةً كُنَّا نَمُصُّهَا كَمَا يَمُصُّ الصَّبِيُّ ثُمَّ نَشْرَبُ عَلَيْهَا مِنْ الْمَاءِ فَتَكْفِينَا يَوْمَنَا إِلَى اللَّيْلِ وَكُنَّا نَضْرِبُ بِعِصِيِّنَا الْخَبَطَ ثُمَّ نَبُلُّهُ بِالْمَاءِ فَنَأْكُلُهُ وَانْطَلَقْنَا عَلَى سَاحِلِ الْبَحْرِ فَرُفِعَ لَنَا كَهَيْئَةِ الْكَثِيبِ الضَّخْمِ فَأَتَيْنَاهُ فَإِذَا هُوَ دَابَّةٌ تُدْعَى الْعَنْبَرَ فَقَالَ أَبُو عُبَيْدَةَ مَيْتَةٌ وَلَا تَحِلُّ لَنَا ثُمَّ قَالَ لَا بَلْ نَحْنُ رُسُلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ فَكُلُوا فَأَقَمْنَا عَلَيْهِ شَهْرًا وَنَحْنُ ثَلَاثُ مِائَةٍ حَتَّى سَمِنَّا فَلَمَّا قَدِمْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ هُوَ رِزْقٌ أَخْرَجَهُ اللَّهُ لَكُمْ فَهَلْ مَعَكُمْ مِنْ لَحْمِهِ شَيْءٌ فَتُطْعِمُونَا مِنْهُ فَأَرْسَلْنَا مِنْهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكَلَ

3840. Dari Jabir, dia berkata: Rasulullah SAW telah mengutus kami, beliau mengangkat Abu Ubaidah bin Al Jarrah menjadi pemimpin kami, guna meminta bantuan unta (untuk berperang) kepada kaum Quraisy. Kami hanya berbekal beberapa bungkus kurma, maka Abu Ubaidah memberikan kurma secara satu-persatu kepada kami, kami pun mengemutnya, persis seorang anak kecil, lalu kami minum air. Ternyata makanan itu cukup hingga malam hari. Kemudian kami menghancurkan kurma (yang tersisa) dengan tongkat yang kami bawa, selanjutnya kami mencampurinya dengan air kemudian kami makan bersama. Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan melalui jalur pantai, lalu dari kejauhan terlihat seperti bukit pasir yang besar. Kami lalu mendekatinya, ternyata benda itu adalah seekor binatang laut yang terdampar, yang biasanya disebut Al Anbar (jenis ikan besar). Abu Ubaidah berkata, "Binatang ini sudah mati, tentu tidak boleh kita makan!" Sahabat yang lain berkata, "Tidak, itu halal (boleh dimakan) karena kita adalah utusan dari utusan Allah (maksudnya utusan Rasulullah) dan dalam perjalanan untuk berjuang di jalan Allah, apalagi kita dalam keadaan darurat karena kehabisan makanan. Jadi makanlah." Kami pun memakannya sebulan lamanya. Kami saat itu berjumlah kurang lebih tiga ratus orang prajurit, hingga badan kami menjadi gemuk. Ketika kami menghadap Rasulullah, kami menceritakan hal itu kepada beliau. Beliau kemudian bersabda, "Itu adalah rezeki yang telah disediakan Allah untuk kalian semua. Apakah kalian masih menyisakannya untukku?" Kami lalu memberikannya kepada Rasulullah dan beliau pun langsung memakannya. (Shahih: Muslim)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 46. Makan dengan Menggunakan Bejana Ahli Kitab



عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنُصِيبُ مِنْ آنِيَةِ الْمُشْرِكِينَ وَأَسْقِيَتِهِمْ فَنَسْتَمْتِعُ بِهَا فَلَا يَعِيبُ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ

3838. Dari Jabir, dia berkata: Ketika kami berperang bersama Rasulullah SAW, kami mendapatkan bejana orang-orang musyrik dan tempat air dari kulit, maka kami memakai kedua bejana tersebut dan Rasul pun tidak mencelanya." {Shahih), Al Irwa' 1/76

عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّا نُجَاوِرُ أَهْلَ الْكِتَابِ وَهُمْ يَطْبُخُونَ فِي قُدُورِهِمْ الْخِنْزِيرَ وَيَشْرَبُونَ فِي آنِيَتِهِمْ الْخَمْرَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَهَا فَكُلُوا فِيهَا وَاشْرَبُوا وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا غَيْرَهَا فَارْحَضُوهَا بِالْمَاءِ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا

3839. Dari Abu Tsa'labah Al Khusyani, dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah, "Bagaimana kita bisa berdampingan dengan Ahli kitab sedangkan mereka memasak daging babi dalam panci mereka dan meminum arak dengan bejana mereka?" Rasulullah berkata, "Jika kalian bisa menemukan bejana selain itu, maka makan dan minumlah dengan bejana tersebut (selain bejana itu) dan minumlah. Namun jika kalian tidak menemukan bejana yang lain, maka siramlah (cuci dan bersihkan) dengan air, kemudian baru digunakan untuk makan dan minum. " (Shahih), Al Irwa', 37 danMuttafaq 'Alaih secara ringkas

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 45. Menyatukan Dua Jenis Makanan (yang Berbeda Sifatnya) Ketika Makan


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْكُلُ الْقِثَّاءَ بِالرُّطَبِ

3835. Dari Abdullah bin Ja'far, dia berkata: Rasulullah SAW pernah memakan mentimun dengan kurma yang baru masak. {Shahih: Mutafaq 'Alaih)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُ الْبِطِّيخَ بِالرُّطَبِ فَيَقُولُ نَكْسِرُ حَرَّ هَذَا بِبَرْدِ هَذَا وَبَرْدَ هَذَا بِحَرِّ هَذَا

3836. Dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah SAW pernah memakan semangka dengan kurma yang baru masak. Beliau kemudian berkata, "Kita menghancurkan (mengurangi) panasnya makanan ini dengan dinginnya makanan ini dan kita menghancurkan dinginnya makanan ini dengan panasnya makanan ini" (Hasan), Ash-Shahihah, 57

عَنْ ابْنَيْ بُسْرٍ السُّلَمِيَّيْنِ قَالَا دَخَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدَّمْنَا زُبْدًا وَتَمْرًا وَكَانَ يُحِبُّ الزُّبْدَ وَالتَّمْرَ

3837. Dari Ibnu Busr As-Sulamiyyaini, mereka berkata: Rasulullah SAW datang kepada kami, maka kami sajikan kepadanya susu dengan kurma, dan ternyata beliau menyukainya." (Shahih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 44. Membandingkan Kurma pada Waktu Makan




عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْإِقْرَانِ إِلَّا أَنْ تَسْتَأْذِنَ أَصْحَابَكَ

3834. Dari Ibnu Umar, dia berkata: Rasulullah SAW melarang kami membandingkan kurma, kecuali kamu telah minta izin kepada saudaramu. (Shahih: Muttafaq 'Alaih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 43. Memeriksa Kurma yang telah Rusak ketika Akan Memakannya



عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتَمْرٍ عَتِيقٍ فَجَعَلَ يُفَتِّشُهُ يُخْرِجُ السُّوسَ مِنْهُ

3832. Dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah SAW diberi kurma yang sudah lama tersimpan, maka beliau memeriksanya, ternyata di dalamnya terdapat ulat. (Shahih)

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُؤْتَى بِالتَّمْرِ فِيهِ دُودٌ فَذَكَرَ مَعْنَاهُ

3833. Dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah SAW diberi kurma yang sudah dimakan ulat, ...kemudian perawi menyebutkan makna haditsnya. (Shahi
h) lihat hadits sebelumnya

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 42. Kurma




عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْتٌ لَا تَمْرَ فِيهِ جِيَاعٌ أَهْلُهُ

3831. Dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Rumah yang tidak mempunyai kurma adalah rumah yang menelantarkan penghuninya (kelaparan)." {Shahih: Muslim)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 42. Kurma


عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْتٌ لَا تَمْرَ فِيهِ جِيَاعٌ أَهْلُهُ

3831. Dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Rumah yang tidak mempunyai kurma adalah rumah yang menelantarkan penghuninya (kelaparan)." {Shahih: Muslim)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 41. Memakan Bawang Putih



أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَلًا فَلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ لِيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا وَلْيَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ وَإِنَّهُ أُتِيَ بِبَدْرٍ فِيهِ خَضِرَاتٌ مِنْ الْبُقُولِ فَوَجَدَ لَهَا رِيحًا فَسَأَلَ فَأُخْبِرَ بِمَا فِيهَا مِنْ الْبُقُولِ فَقَالَ قَرِّبُوهَا إِلَى بَعْضِ أَصْحَابِهِ كَانَ مَعَهُ فَلَمَّا رَآهُ كَرِهَ أَكْلَهَا قَالَ كُلْ فَإِنِّي أُنَاجِي مَنْ لَا تُنَاجِي

قَالَ أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ بِبَدْرٍ فَسَّرَهُ ابْنُ وَهْبٍ طَبَقٌ

3822. Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Rasulullah bersabda, "Barangsiapa memakan bawang putih, hendaklah menjauh dari kami atau menjauh dari masjid kamidan duduk di rumahnya saja." Pada waktu perang Badar beliau diberi hidangan sayur-sayuran hijau, lalu beliau mencium bau, maka beliau bertanya tentang bau tersebut? Para sahabat lalu memberitahukan macam-macam sayuran yang ada, beliau pun berkata, "Dekatkanlah sayur-sayuran itu kepadaku dan kepada sebagian sahabat yang hadir." Temyata beliau tidak menyukainya, maka beliau berkata, "Makanlah, karena sesungguhnya aku berbicara dengan malaikat." (Shahih: Muttafaq 'Alaih) Al Irwa' 2/334

عَنْ حُذَيْفَةَ أَظُنُّهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَفَلَ تُجَاهَ الْقِبْلَةِ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَفْلُهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَمَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الْبَقْلَةِ الْخَبِيثَةِ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا ثَلَاثًا

3824. Dari Khudzaifah, yang menurutnya dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, "Siapa yang meludah ke arah kiblat, maka pada Hari Kiamat kedua matanya akan diludahi. Siapa yang memakan bawang putih, jangan sekali-kali mendekati masjid kami ini —diulang oleh beliau sampai tiga kali—." (Shahih), At-Ta 'liq Ar-Raghiib, 1/122

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ فَلَا يَقْرَبَنَّ الْمَسَاجِدَ

3825. Dari Ibnu Umar, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang makan dari pohon atau tumbuhan ini (maksudnya bawang putih) maka jangan sekali-kali mendekati masjid-masjid." {Shahih: Muttafaq 'Alaih), At-Ta'liq Ar-Raghiib, 1/133

عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ أَكَلْتُ ثُومًا فَأَتَيْتُ مُصَلَّى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ سُبِقْتُ بِرَكْعَةٍ فَلَمَّا دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ وَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رِيحَ الثُّومِ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ فَلَا يَقْرَبَنَّا حَتَّى يَذْهَبَ رِيحُهَا أَوْ رِيحُهُ فَلَمَّا قُضِيَتْ الصَّلَاةُ جِئْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ لَتُعْطِيَنِّي يَدَكَ قَالَ فَأَدْخَلْتُ يَدَهُ فِي كُمِّ قَمِيصِي إِلَى صَدْرِي فَإِذَا أَنَا مَعْصُوبُ الصَّدْرِ قَالَ إِنَّ لَكَ عُذْرًا

3826. Dari Al Mughirah bin Syu'bah, dia berkata: Aku telah makan bawang putih, lalu aku datang ke mushalanya Rasulullah (masjid). Saat itu aku ketinggalan satu rakaat shalat. Sepertinya pada saat aku masuk masjid, Rasulullah telah mencium bau bawang putih, sehingga ketika beliau telah menyelesaikan shalatnya, beliau pun bersabda, "Siapa yang memakan dari pohon ini (maksudnya bawang putih), jangan mendekati kami hingga baunya hilang." Ketika aku selesai shalat aku pun mendatangi Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, berikan tanganmu padaku!" Lalu aku masukkan tangan beliau ke dalam dadaku melalui lengan baju, dan beliau menemukan dadaku terbalut. Beliau kemudian bersabda, "Kamu punya alasan (untuk makan bawang putih dan boleh masuk masjid).'''' (Shahih), At-Ta'liq ala bin Khuzaimah, 1672

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ قُرَّةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ هَاتَيْنِ الشَّجَرَتَيْنِ وَقَالَ مَنْ أَكَلَهُمَا فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا وَقَالَ إِنْ كُنْتُمْ لَا بُدَّ آكِلِيهِمَا فَأَمِيتُوهُمَا طَبْخًا. قَالَ يَعْنِي الْبَصَلَ وَالثُّومَ

3827. Dari Qurrah, dia berkata: Rasulullah melarang kedua pohon ini (untuk dimakan). Beliau bersabda, "Siapa yang memakan kedua pohon tadi hendaknya memakannya dalam keadaan masak (setelah direbus). " Dia (perawi) berkata: Maksud "dua pohon" di sini adalah bawang merah dan bawang putih. (Shahih), Al Irwa' 155-156

عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ نُهِيَ عَنْ أَكْلِ الثُّومِ إِلَّا مَطْبُوخًا

3828. Dari Ali AS, dia berkata: Rasulullah melarang memakan bawang putih, kecuali telah dimasak. (Shahih: At-Tirmidzi), 1884

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 40. Cuka



عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نِعْمَ الْإِدَامُ الْخَلُّ

3820. Dari Jabir, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Laukyang paling lezat adalah cuka. " (Shahih: Muslim)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نِعْمَ الْإِدَامُ الْخَلُّ

3821. Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Lauk yang paling lezat adalah cuka." (Shahih: Muslim) lihat hadits sebelumnya

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 39. Memakan Keju



عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِجُبْنَةٍ فِي تَبُوكَ فَدَعَا بِسِكِّينٍ فَسَمَّى وَقَطَعَ

3819. Dari Ibnu Umar, dia berkata: Pada waktu perang Tabuk, Rasulullah SAW disuguhi keju, maka beliau minta diberi pisau. Beliau lalu mengucapkan bismillah dan memotongnya." (Hasan sanadnya)

38 xxx


Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 37. Memakan Bangkai dalam Keadaan Darurat


عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ أَنَّ رَجُلًا نَزَلَ الْحَرَّةَ وَمَعَهُ أَهْلُهُ وَوَلَدُهُ فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ نَاقَةً لِي ضَلَّتْ فَإِنْ وَجَدْتَهَا فَأَمْسِكْهَا فَوَجَدَهَا فَلَمْ يَجِدْ صَاحِبَهَا فَمَرِضَتْ فَقَالَتْ امْرَأَتُهُ انْحَرْهَا فَأَبَى فَنَفَقَتْ فَقَالَتْ اسْلُخْهَا حَتَّى نُقَدِّدَ شَحْمَهَا وَلَحْمَهَا وَنَأْكُلَهُ فَقَالَ حَتَّى أَسْأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَاهُ فَسَأَلَهُ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكَ غِنًى يُغْنِيكَ قَالَ لَا قَالَ فَكُلُوهَا قَالَ فَجَاءَ صَاحِبُهَا فَأَخْبَرَهُ الْخَبَرَ فَقَالَ هَلَّا كُنْتَ نَحَرْتَهَا قَالَ اسْتَحْيَيْتُ مِنْكَ

3816. Dari Jabir bin Samurah, dia berkata: Ada seorang lelaki bersama istri dan anaknya sedang beristirahat di Harah. Kemudian seseorang mendatanginya dan berkata, "Unta kami tersesat (hilang), maka jika kamu menemukanya tolong tangkap ia!" Unta itu kemudian di temukan oleh lelaki tersebut, tetapi dia tidak menemukan pemiliknya. Unta itu lalu sakit, maka istrinya berkata, "Sembelih saja." Tetapi suaminya menolak. Istrinya berkata lagi, "Kuliti dia, agar kita bisa mendendeng daging dan lemaknya." Namun lelaki itu (suaminya) berkata, "Jangan dulu, kita harus melapor dulu kepada Rasulullah." Lelaki itu kemudian menghadap Rasulullah untuk menanyakan hal tersebut?" Beliau lalu bertanya, "Apakah kamu mempunyai sesuatu yang lain, yang bisa mencukupimu?' Lelaki itu menjawab, "Tidak." Beliau berkata, "(Jika begitu maka) makanlah (daging unta tersebut)" Dia (perawi) berkata: Selang beberapa waktu, pemiliknya datang, maka lelaki itu menceritakan keadaan yang sebenarnya kepada pemilik unta tersebut. Pemilik unta kemudian berkata, "Kamu benar-benar telah menyembelihnya?" Lelaki itu menjawab, "Sesungguhnya aku sangat malu kepadamu." {Hasan sanadnya)

36 xxx


Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 35. Memakan Belalang



عَنْ أَبِي يَعْفُورٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ أَبِي أَوْفَى وَسَأَلْتُهُ عَنْ الْجَرَادِ فَقَالَ غَزَوْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّ أَوْ سَبْعَ غَزَوَاتٍ فَكُنَّا نَأْكُلُهُ مَعَهُ

3812. Dari Abu Ya'fur, dia berkata: Aku pernah mendengar Ibnu Abu Aufa dan saya bertanya kepadanya tentang belalang?" Dia menjawab, "Aku ikut berperang bersama Rasulullah sebanyak enam atau tujuh kali, dan kami memakannya (belalang) bersama beliau." (Shahih: Muttafaq 'Alaih)

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 34. Memakan Daging Keledai Kampung



عَنْ جَابِرِ بَنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ خَيْبَرَ عَنْ أَنْ نَأْكُلَ لُحُومَ الْحُمُرِ وَأَمَرَنَا أَنْ نَأْكُلَ لُحُومَ الْخَيْلِ

قَالَ عَمْرٌو فَأَخْبَرْتُ هَذَا الْخَبَرَ أَبَا الشَّعْثَاءِ فَقَالَ قَدْ كَانَ الْحَكَمُ الْغِفَارِيُّ فِينَا يَقُولُ هَذَا وَأَبَى ذَلِكَ الْبَحْرُ يُرِيدُ ابْنَ عَبَّاسٍ

3808. Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: Rasulullah SAW melarang —pada waktu perang Khaibar— memakan daging keledai dan beliau menyuruh (memperbolehkan) kami makan daging kuda.

Amru berkata: berita ini kemudian aku ceritakan kepada Abu Asy-Sya'tsa", dia lalu berkata, "Sebenarnya Hakim Al Ghifari telah mengatakan hal itu kepada kami, tetapi Al Bahr —julukan untuk Ibnu Abbas—menolaknya." (Shahih: Muttafaq 'Alaih) sudah disebutkan pada no. 3788 tanpa perkataan Amru, "Berita ini kemudian aku ceritakan kepada... " (HR. Bukhari), 5529

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ خَيْبَرَ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ وَعَنْ الْجَلَّالَةِ عَنْ رُكُوبِهَا وَأَكْلِ لَحْمِهَا

3811. Dari bin Amru, dia berkata: Rasulullah SAW melarang kami —pada waktu perang Khaibar—: memakan daging keledai kampung. Beliau juga melarang kami menaiki dan memakan unta yang memakan kotoran." (Hasan Shahih: An-Nasa'i), 4447

Shahih Sunan Abu Daud Kitab MAKANAN 33. Larangan Memakan Binatang Buas



عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنْ السَّبُعِ

3802. Dari Abu Tsa'labah Al Khusyani, dia berkata: Rasulullah SAW melarang memakan semua binatang buas yang mempunyai taring. (Shahih)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنْ السَّبُعِ وَعَنْ كُلِّ ذِي مِخْلَبٍ مِنْ الطَّيْرِ

3803. Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah SAW melarang memakan binatang buas yang mempunyai taring dan binatang jenis burung yang berkuku tajam. {Shahih)

عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا لَا يَحِلُّ ذُو نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ وَلَا الْحِمَارُ الْأَهْلِيُّ وَلَا اللُّقَطَةُ مِنْ مَالِ مُعَاهَدٍ إِلَّا أَنْ يَسْتَغْنِيَ عَنْهَا وَأَيُّمَا رَجُلٍ ضَافَ قَوْمًا فَلَمْ يَقْرُوهُ فَإِنَّ لَهُ أَنْ يُعْقِبَهُمْ بِمِثْلِ قِرَاهُ

3804. Dari Al Miqdam bin Ma'di Karib, dia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Ingatlah, tidak dihalalkan (bagi kalian) binatang buas yang bertaring, keledai kampung, dan barang temuan milik ahli dzimmah, kecuali dia tidak menggunakanya. Barangsiapa bertamu kepada suatu kaum dan kaum itu tidak mau menerimanya, maka dia berhak menghukum kaum tersebut, seperti yang mereka lakukan kepadanya." (Shahih), Al Misykah, 163. Akan diterangkan lebih lanjut dengan sedikit tambahan pada pada awal hadits dalam bab As-Sunnah.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ خَيْبَرَ عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِي مِخْلَبٍ مِنْ الطَّيْرِ

3805. Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah SAW melarang kami —pada waktu perang Khaibar— memakan binatang buas yang bertaring dan binatang jenis burung yang berkuku tajam. (Shahih: Muslim) telah disebutkan pada hadits sebelumnya.